Pelaksanaan Gathering Manager di penghujung tahun 2007 dikemas dalam kegiatan yang berbeda. Gathering manager yang 1812008161048620.5795186biasanya ” in door”, kali ini dirancang panitia pelaksana dalam bentuk kegiatan ” outbound.” Ternyata kegiatan ini mendapat respon yang luar biasa dari para peserta (Direksi, Manager Pusat & ABM). Hal ini ditandai dengan rekor kehadiran peserta yang mencapai 75 orang. Jajaran Direksi juga semua hadir, kecuali Pak Teddy yang sedang keluar negeri.

Para ABM Jawa Barat tidak mau ketinggalan pula untuk hadir. Bahkan ABM Cirebon harus membeli sepatu baru di Jakarta, maklum selama ini tidak pernah di  undang, katanya hanya ABM Jabotabek melulu yang diundang…he..he.. protes ni ye…. Memang cukup beralasan kalau panitia mengundang Bapak-bapak ABM kita ini, karena tahun 2007 ada target yang harus kita capai bersama yaitu minimal pencapaiannya setinggi menara Eiffel di Perancis atau menara Pisa di Italia. Target ini sepertinya sudah dipelupuk mata untuk di gapai bahkan Presdir kita Pak Vidjong sangat optimis.

Ada cerita menarik dalam perjalanan menuju lokasi gathering. Setelah keluar dari tol Jagorawi maka peta yang sudah di bagikan mulai di buka sambil melihat tanda-tanda patung yang ada di peta tersebut sambil terus berjalan menelusuri jalur petunjuknya. Ternyata kemampuan membaca peta berbeda-beda. Sebagian peserta menyimpang dari jalur peta tersebut. Kejadian yang cukup menarik dan menggelitik adalah ketika panitia yang sudah survey sebelumnya berperan sebagai penunjuk jalan ternyata tersesat juga dan tidak tanggungtanggung direksi kita Ibu Lusy ada didalam mobil tersebut dan ikut disesatkannya mungkin sengaja menyesatkan diri kali he…he.. Tersesat sejenak wajar-wajar saja terjadi, karena terpesona oleh nuansa alam terbuka, udara yang sejuk, hamparan perkebunan sayur mayur dipegunungan, kampung-kampung dengan bangunan yang mulai ditata secara permanen, pemandangan yang indah sejauh batas mata memandang, padang golf yang ditata dengan rerumputan dan pohon yang rapi, jalan menanjak dan berkelok-kelok serta gadis-gadis desa berdatangan seolah menyambut rombongan para manager yang ganteng-ganteng tapi sudah mulai gendut.

Sesampainya di lokasi gathering mata mulai memandang kiri dan kanan, mengamati alat-alat permaianan atau sarana yang telah disiapkan oleh event organizer (EO) yang akan digunakan dalam pelaksanaan kegiataan acara tersebut. Tepat pukul sembilan pagi setelah sarapan soto hangat, apel pembentukan kelompok dan yel-yel dimulai dan selanjutnya satu persatu alat dimainkan setiap kelompok dengan santai, ceria, serius, penuh canda, tawa, riang, gembira dan suasana yang tak terlukiskan lainnya. Pak Vidjong dalam suatu permainan harus kena siraman air satu ember di kepala karena Pak Robert sengaja menyentuh kayu sehingga harus jatuh…, maklum mungkin kegemukan kali..! untung aja tidak kena SP…he…he..

Setelah semua kelompok menyelesaikan permainan darat, saatnya istrahat sambil makan siang. Usai makan siang permainan udara akan dimulai. Berjalan dengan seutas tali di udara jika dipandang dari bawah sangat mudah dan gampang dijalani apalagi ada alat pengaman. Namun bagi manager yang bobotnya besar, ini merupakan tantangan yang menggentarkan ke dua lutut, apalagi selanjutnya, harus naik jaring dan meluncur seperti latihan tentara, sangat menguras tenaga. Ternyata permainan ini mengandung banyak makna, salah satunya bahwa pekerjaan orang lain kelihatannya gampang dikerjakan namun setelah kita sendiri melakukannya akan menemukan kesulitan-kesulitan sebab itu kita butuh kerjasama tim untuk mencapai tujuan bersama.

Tepat pukul tiga sore, perjalanan menuju air terjun segera dimulai dengan menuruni dinding bukit yang cukup terjal yang telah diberi pembatas bambu sebagai tempat pegangan dan pijakan, berbatu-batu dan licin karena siraman hujan rintik-rintik sambil menelusuri kebun singkong, pohon pisang dan sawah. Beberapa peserta tergelincir karena licinnya jalan oleh siraman hujan. Ibu dokter kita (Ibu Selvy) harus saling membantu dengan Pak Marwan untuk meluncur bersama lumpur bahkan penulis juga tergelincir karena ingin mengabadikan peristiwa langka ini dan harus mandi lumpur juga akibat terpeleset. Dalam situasi demikian sebagian peserta kembali teringat masa kecil atau masa sekolah dulu di kampung halamannya, dimana saat hujan tiba payung mereka adalah daun pisang dan itulah yang dipraktekan kembali….banyak wong ndeso ya…

Perjalanan yang melelahkan ini akhirnya sampai di air terjun yang menjadi tujuan utama, dan kegembiraan pun mulai tampak diwajah para peserta. Ibu Lisa langsung menceburkan diri ke air dengan senyum dan tawanya yang khas, mengikuti Pak Boyke yang telah lebih dahulu menunggu di atas batu. Pak Agus Mulyodono menyusul menuju air terjun, menantang deras dan dinginnya air tersebut, Ibu Selvy langsung menyandarkan diri di dinding batu, Pak Dedeng asyik potret memotret dengan teman-teman lain, Pak Matius & Pak Gunawan jeprat-jepret dengan kameranya memenuhi request dari peserta,, pokoknya meriah euy…

Setelah puas menikmati suasana alam yang sangat indah ini, bermain air, siram-siraman , foto-foto dan berbagai aktifitas lainnya, tibalah saat pulang. Perjalanan pulang dimulai, dan ini sangat melelahkan, naik gunung lewat perkampungan dan kebun singkong..wah…hampir semua peserta berhenti berulang kali untuk istirahat. Keringat bercucuran, napas tersengal-sengal, kasian deh….dan akhirnya perkampungan terakhir di sebelah lokasi telah kelihatan, akhirnya semua peserta tiba kembali dengan selamat.

Setelah mandi dan makan malam yang dihibur dengan musik dangdut maka acara ditutup oleh Presdir Pak Vidjong dengan semangat dan optimis bahwa pencapaian setinggi menara Eiffel dapat dicapai bersama setelah di breakdown per Direktorat….Mari kita dukung dan sukseskan bersama. ( red)